Elfa, Thiara (2026) Penerapan Terapi Aktivitas : Membatik Untuk Mengurangi Tanda dan Gejala Halusinasi di RSJ Grhasia. Diploma thesis, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
|
Text
Awal.pdf Download (757kB) |
|
Text
Abstract.pdf Download (178kB) |
|
Text
Chapter 1.pdf Download (168kB) |
|
Text
Chapter 2.pdf Download (182kB) |
|
Text
Chapter 3.pdf Restricted to Registered users only Download (149kB) |
|
Text
Chapter 4.pdf Restricted to Repository staff only Download (245kB) |
|
Text
Conclusion.pdf Download (126kB) |
|
Text
Reference.pdf Download (197kB) |
|
Text
Appendices.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
|
Text
Full Text.pdf Restricted to Repository staff only Download (2MB) |
Abstract
PENERAPAN TERAPI AKTIVITAS : MEMBATIK UNTUK MENGURANGI TANDA DAN GEJALA HALUSINASI DI RSJ GRHASIA Elfa Thiara1, Sarka Ade Susana2, Wittin Khairani3 Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jl. Tatabumi No.3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta, 55293 Email : elfathiaraa8@gmail.com ABSTRAK Latar belakang : Halusinasi adalah gangguan atau perubahan persepsi dimana pasien merasakan stimulus melalui panca indra tanpa adanya rangsangan nyata dari luar. Hasil studi pendahuluan di Rumah Sakit Jiwa Grhasia pada bulan Desember 2025 terdapat 107 pasien dengan gangguan persepsi sensori halusinasi. Intervensi yang dapat dilakukan, yaitu terapi aktivitas membatik. Tujuan : Menerapkan terapi aktivitas : membatik pada kedua pasien dengan gangguan persepsi sensori halusinasi untuk mengurangi tanda dan gejala halusinasi di RSJ Grhasia. Metode : Studi kasus menggunakan pendekatan proses asuhan keperawatan dengan fokus penerapan terapi aktivitas membatik menggunakan metode membandingkan respons dua pasien gangguan persepsi sensori halusinasi pendengaran. Pelaksanaan studi kasus ini dilakukan selama 15–20 menit setiap pertemuan, intervensi berlangsung selama 3 hari berturut-turut. Hasil : Pengkajian keperawatan jiwa pada kedua pasien menunjukkan kesamaan gejala seperti mendengar suara atau bisikan, berbicara sendiri, melamun, dan perhatian mudah teralihkan. Perbedaannya, Pasien I (Tn. A) cenderung pendiam, kurang berinteraksi dengan lingkungan, serta memiliki riwayat gangguan jiwa dalam keluarga, sedangkan Pasien II (Tn. H) mampu berinteraksi dengan lingkungan namun sering menyendiri karena merasa tidak memiliki teman dekat. Intervensi berupa terapi aktivitas membatik dilakukan untuk membantu mengalihkan perhatian pasien dari stimulus halusinasi. Pasien I (Tn. A) tampak lebih pasif sedangkan (Pasien II) Tn. H lebih kooperatif selama kegiatan berlangsung. Penurunan tanda dan gejala halusinasi pada kedua pasien terlihat di hari ketiga dibuktikan dengan penurunan skor AHRS. Kesimpulan : Studi kasus yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa penerapan terapi aktivitas membatik pada kedua pasien mampu menurunkan skor AHRS pasien gangguan persepsi sensori: halusinasi. Kata kunci : Skizofrenia, Halusinasi pendengaran, Terapi aktivitas membatik 1. Mahasiswa D-III Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta 2. Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta 3. Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Kata Kunci/Keyword Abstrak: | Skizofrenia, Halusinasi pendengaran, Terapi Aktivitas membatik |
| Subjects: | R Medicine > RT Nursing |
| Divisions: | Poltekkes Kemenkes Yogyakarta > Jurusan Keperawatan > Program Studi DIII Keperawatan |
| Depositing User: | Mahasiswa Polkesyogya |
| Date Deposited: | 07 Jul 2026 07:55 |
| Last Modified: | 07 Jul 2026 07:55 |
| URI: | http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/id/eprint/22434 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
