Nur, Jibakudin (2026) ANALISIS SPASIAL TINGKAT RISIKO LEPTOSPIROSIS BERDASARKAN KASUS MANUSIA, KEPADATAN POPULASI TIKUS, DAN PENEMUAN KEBERADAAN TIKUS DI KALURAHAN TRIRENGGO DAN BANGUNJIWO TAHUN 2025. Skripsi thesis, POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA.
|
Text (Abstract)
Abstract.pdf Download (417kB) |
|
Text (Awal)
Awal.pdf Download (1MB) |
|
Text (Chapter 1)
Chapter 1.pdf Download (675kB) |
|
Text (Chapter 2)
Chapter 2 .pdf Download (620kB) |
|
Text (Chapter 3)
Chapter 3.pdf Restricted to Registered users only Download (392kB) |
|
Text (Chapter 4)
Chapter 4.pdf Restricted to Registered users only Download (3MB) |
|
Text (Conclusion)
Conclusion.pdf Download (310kB) |
|
Text (References)
References .pdf Download (327kB) |
|
Text (Appendices)
Appendices.pdf Restricted to Registered users only Download (8MB) |
|
Text (Full Text)
JIBAKUDINNUR_P07133222080.pdf Restricted to Repository staff only Download (12MB) |
Abstract
Latar Belakang: Leptospirosis masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Bantul dengan variasi distribusi kasus yang diduga berkaitan dengan kepadatan populasi tikus relatif, karakteristik habitat tikus, dan kondisi lingkungan. Sehingga nalisis spasial diperlukan untuk menganalisis wilayah berisiko. Tujuan: Menganalisis tingkat risiko leptospirosis berdasarkan distribusi kasus manusia, kepadatan populasi tikus relatif, dan karakteristik habitat tikus serta membandingkan karakteristik risiko di Kalurahan Trirenggo dan Bangunjiwo. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan studi ekologis berbasis analisis spasial. Analisis dilakukan menggunakan Average Nearest Neighbor, Ripley’s K Function, Kernel Density Estimation, dan buffer. Kepadatan populasi tikus diukur menggunakan trap success, sedangkan hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan uji Spearman dan Kruskal Wallis. Hasil: Kalurahan Trirenggo memiliki 21 kasus leptospirosis dan Kalurahan Bangunjiwo memiliki 8 kasus. Pola kasus di Trirenggo cenderung mengelompok (clustered), sedangkan di Bangunjiwo cenderung menyebar (dispersed). Nilai trap success lebih tinggi di Bangunjiwo dibandingkan Trirenggo. Habitat tikus di Trirenggo didominasi habitat peridomestik, sedangkan di Bangunjiwo ditemukan kecenderungan habitat indoor pada beberapa dusun. Pemetaan risiko menunjukkan 7 dusun kategori risiko tinggi di Trirenggo (46,7%), dan 4 dusun di Bangunjiwo (40,0%). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel yang dianalisis dengan jumlah kasus leptospirosis pada kedua wilayah penelitian. Kesimpulan: Trirenggo dan Bangunjiwo memiliki karakteristik spasial, kepadatan populasi tikus relatif, habitat tikus, dan distribusi risiko leptospirosis yang berbeda. Hasil pemetaan risiko berbasis spasial dapat digunakan untuk menentukan wilayah prioritas pengendalian leptospirosis. Kata Kunci: leptospirosis, trap success , habitat tikus.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Kata Kunci/Keyword Abstrak: | Kata Kunci: leptospirosis, trap success , habitat tikus. |
| Subjects: | R Medicine > RA Public aspects of medicine R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA0421 Public health. Hygiene. Preventive Medicine |
| Divisions: | Poltekkes Kemenkes Yogyakarta > Jurusan Kesehatan Lingkungan > Program Studi Sarjana Terapan Sanitasi Lingkungan |
| Depositing User: | Mahasiswa Polkesyogya |
| Date Deposited: | 31 Jul 2026 02:07 |
| Last Modified: | 31 Jul 2026 02:07 |
| URI: | http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/id/eprint/23531 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
