Pramono, 'Aisyah Yute (2026) FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN EMERGENCE AGITATION PADA PASIEN PASCAANESTESI UMUM MENGGUNAKAN ENDOTRACHEAL TUBE. Skripsi thesis, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

Text (Awal)
Awal.pdf.pdf

Download (1MB)
Text (Abstract)
Abstract.pdf.pdf

Download (240kB)
Text (Chapter 1)
Chapter 1.pdf.pdf

Download (257kB)
Text (Chapter 2)
Chapter 2.pdf.pdf

Download (424kB)
Text (Chapter 3)
Chapter 3.pdf.pdf
Restricted to Registered users only

Download (350kB)
Text (Chapter 4)
Chapter 4.pdf.pdf
Restricted to Registered users only

Download (398kB)
Text (Conclusion)
Conclusion.pdf.pdf

Download (224kB)
Text (References)
References.pdf.pdf

Download (201kB)
Text (Appendices)
Appendices.pdf.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB)
Text (Full Text)
'AISYAH YUTE PRAMONO_P07120322006.pdf.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (4MB)
Official URL: http://poltekkesjogja.ac.id

Abstract

Latar Belakang: Emergence agitation (EA) merupakan komplikasi pascaanestesi umum yang ditandai dengan gelisah, disorientasi, dan peningkatan akitivitas motorik tidak terkontrol pada fase pemulihan. Kondisi ini terjadi pada 4,7% - 22,2% pasien dewasa secara global dan berisiko membahayakan keselamatan pasien, namun data spesifik mengenai faktor – faktor yang berkontribusi di Indonesia masih terbatas. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian emergence agitation pada pasien pascaanestesi umum menggunakan ETT di RSUD Kanjuruhan Malang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling terhadap 60 responden pasien dewasa (17-65 tahun) yang menjalani anestesi umum dengan ETT. Data ini dikumpulkan melalui lembar observasi klinik yang mencatat lama pemakaian ETT, kadar EtCO2 saat ekstubasi, Numeric Rating Scale (NRS) untuk mengukur intensitas nyeri pascaoperasi, dan Richmond Agitation Sedation Scale (RASS) untuk menilai kejadian agitasi pada menit ke-5, ke-10, ke-15 pascaekstubasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact. Hasil: Sebanyak 55% responden mengalami agitasi pada menit ke-5, menurun drastis menjadi 3,3% pada menit ke-10, dan tidak ada agitasi pada menit ke-15. Analisis bivariat menunjukkan bahwa kadar EtCO2 abnormal memiliki hubungan bermakna dengan kejadian emergence agitation pada menit ke-5 (p = 0,002; OR = 7,529), sedangkan lama pemakaian ETT (p = 0,795) dan nyeri pascaoperasi (p = 0,442) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Kesimpulan: Kadar EtCO2 saat ekstubasi merupakan faktor yang secara signifikan berhubungan dengan kejadian emergence agitation pada fase early emergence (p= 0,002; OR= 7,529), sementara lama pemakaian ETT (OR= 1,144) dan nyeri pascaoperasi (OR= 2,232) tidak terbukti berhubungan secara bermakna dalam penelitian ini. Pemantauan kadar EtCO2 secara ketat selama proses ekstubasi perlu menjadi prioritas dalam upaya pencegahan emergence agitation. Kata Kunci: anestesi umum, emergence agitation, endotracheal tube, EtCO2, nyeri pascaoperasi

Item Type: Thesis (Skripsi)
Kata Kunci/Keyword Abstrak: Kata Kunci: anestesi umum, emergence agitation, endotracheal tube, EtCO2, nyeri pascaoperasi
Subjects: R Medicine > RT Nursing
Divisions: Poltekkes Kemenkes Yogyakarta > Jurusan Keperawatan > Program Studi Sarjana Terapan Keperawatan Anestesiologi
Depositing User: Mahasiswa Polkesyogya
Date Deposited: 29 Jul 2026 05:52
Last Modified: 29 Jul 2026 05:52
URI: http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/id/eprint/23383

Actions (login required)

View Item View Item