STATUS SOSIAL EKONOMI TERHADAP STATUS STUNTING PADA ANAK BADUTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEWON I BANTUL DIY

Whiksanti, Ardya Damasita and Herawati, and Waryana, (2019) STATUS SOSIAL EKONOMI TERHADAP STATUS STUNTING PADA ANAK BADUTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEWON I BANTUL DIY. skripsi thesis, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

[img] Text
Awal.pdf

Download (767kB)
[img] Text
Abstract.pdf

Download (473kB)
[img] Text
BAB 1.doc

Download (87kB)
[img] Text
BAB 2.pdf

Download (566kB)
[img] Text
BAB 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (643kB)
[img] Text
BAB 4.docx
Restricted to Registered users only

Download (196kB)
[img] Text
BAB Kesimpulan.pdf

Download (362kB)
[img] Text
Daftar Referensi.pdf

Download (591kB)
[img] Text
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Registered users only

Download (827kB)

Abstract

Latar Belakang : Stunting (pendek dan sangat pendek) merupakan gagal tumbuh pada anak, dan merupakan dampak dari kurangnya energi, protein serta mineral (kalsium dan fosfor) secara kronis. Faktor sosial ekonomi orang tua merupakan salah satu faktor risiko terjadinya stunting. Hal tersebut secara tidak langsung mempengaruhi status gizi pada anak. Menurut Profil Kesehatan Provinsi DIY Tahun 2017, prevalensi balita stunting di DIY tahun 2017 yaitu sebesar 13,86%. Tujuan : Mengetahui status sosial ekonomi merupakan faktor risiko terjadinya status stunting pada anak baduta. Metode : Penelitian dilakukan dengan desain kasus kontrol. Responden dalam penelitian ini adalah baduta yang berjumlah 115 baduta termasuk dalam kelompok kasus dan pada kelompok kontrol sebanyak 115 baduta. Variabel penelitian yaitu pendidikan orang tua baduta (bapak dan ibu), pekerjaan orang tua baduta (bapak dan ibu), dan penghasilan keluarga. Untuk menguji hipotesis penelitian dengan chi-square test dan perhitungan Odd Ratio (OR). Hasil Pada kelompok kasus sebagian besar bapak dan ibu baduta berpendidikan SD, SMP, dan SMA/SMK yaitu 91,3%. Dari segi pekerjaan, pada kelompok kasus persentase pekerjaan bapak baduta paling banyak yaitu bekerja sebesar 99,1%, sedangkan pekerjaan ibu paling banyak yaitu tidak bekerja sebesar 87,8%. Dari segi penghasilan keluarga, pada kelompok kasus persentase penghasilan keluarga baduta paling banyak yaitu dibawah UMP sebesar 61,7%. Hasil uji statistik diketahui bahwa penghasilan keluarga merupakan faktor risiko kejadian stunting pada baduta dengan hasil uji chi square diperoleh nilai OR 2,3. Kesimpulan : Keluarga dengan penghasilan dibawah UMP memiliki risiko sebesar 2,3 kali melahirkan anak stunting dibandingkan dengan keluarga berpenghasilan diatas UMP. Kata Kunci : Baduta, Status Sosial Ekonomi, Stunting

Item Type: Thesis (skripsi)
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA0421 Public health. Hygiene. Preventive Medicine
Divisions: Poltekkes Kemenkes Yogyakarta > Jurusan Gizi > Program Studi Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika
Depositing User: Unnamed user with email server@poltekkesjogja.ac.id
Date Deposited: 04 Jul 2019 08:37
Last Modified: 02 Apr 2020 12:58
URI: http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/id/eprint/1341

Actions (login required)

View Item View Item